
TES BAKAT
APTITUDE TES
PENGERTIAN TES BAKAT DAN BAKAT
PENGERTIAN TES BAKAT DAN BAKAT
PENGERTIAN TES BAKAT:
1. F.S. FREEMAN
An aptitude test, therefore, is one designed to measure a person’s potential ability in an activity of specialized kind and within a restricted range (1976).
2. R.S. CHOUHAN
An aptitude test may be defined as a test which measures a person’s potential ability in an activity of a specialized kind and within a restricted range (1979).
KI FUDYARTANTA
Tes Bakat adalah tes standar yang dirancang untuk mengukur kemampuan khusus yang istemewa (menonjol) pada seseorang (yang biasa disebut bakat).
Tes bakat yang telah distandardisir dapat dipakai untuk diagnose dan prediksi dalam bidang-bidang pendidikan dan dunia kerja.
PENGERTIAN BAKAT
1. FRANK S. FREEMAN
An aptitude is a combination characteristics indicative an individual’s capacity to acquire (with training) some specific knowledge, skill, or set of organized responses, such as the ability to speak a language, to become a musician, to do mechanical work (1976).
2. R.S. CHOUHAN
- An aptitude is a combination of acquire some characteristics indicative of an individual’s capacity to acquire some specific knowledge, skill, or a set of organized responses such as the ability to become an artist or to be a mechanic.
- Aptitude means an individual’s aptitude for a given type of activity, the capacity to acquire proficiency under appropriate conditions, that is his potentialities as present as revealed by his performance on selected tests have predicted value.
3. BRANCA
An aptitude is an ability that is regarded as an indication of how well individual can learn with training and practice, some particular skill or knowledge.
4. LYMAN
. . . Combination of characteristics both native and acquired, which indicative the capacity of person to develop proficiency in some skill or subject matter after relevant training, usually but not necessarily implies intellectual or skill aspects rather than emotional or personality characteristics.
5. 5. BINGHAM
. . . A condition or set characteristics regarded as symptomatic of an individual ability to acquire, with training some (usually specified) knowledge, skill or set of responses.
(3 – 5 dalam Psikodiagnostika, Fakultas Psikologi UGM, 1994).
FUDYARTANTA
Bakat adalah kemampuan yang lebih menonjol atau istimewa pada seseorang. Misalnya, seseorang yang mempunyai bakat bahasa Inggris, maka ia sangat senang bahasa tersebut, sangat cepat dan mudah mempelajarinya, sehingga cakap berbahasa Inggris baik secara lisan maupun tertulis (2001).
ANALISIS KECERDASAN
Vernon menggolong-golongkan definisi-definisi kecerdasan menjadi tiga kategori, ialah (1) kecerdasan ditinjau secara biologis, (2) kecerdasan ditinjau secara psikologis dan (3) terakhir kecerdasan ditinjau secara operasional.
FREEMAN
a. Kemampuan adaptasi atau penyesuaian, yakni kemampuan seseorang untuk menyesuaikan dengan alam sekitar.
b. Kemampuan belajar, the ability to learn "Intelligence is the learning ability".
c. Kemampuan berpikir abstrak
KONSEP KECERDASAN- BEBERAPA DEFINISINYA:
1. Alfred Binet mengidentifikasikan esensi intelligensi adalah sebagai " the tendecy to take and maintain a definite direction, the capacity to adaptations for the purpose of attaining a desired end; and the power of auto-criticism" (Dalam Cronbach, 1970, p. 200).
2. D. Wechsler memberi rumusan : "Intelligence is the aggregate or global capacity of the individual to act purposefully, to think rationally and to deal effectively with his enviroment" (Chauhan, 1979, p. 278).
3. G. Stoddard memberi deskripsi yang komprehensif mengenai kecerdasan, yakni:
• Intelligence is the ability to undertake activities that are charaterized by (1) difficulty, (2) complexity, (3) abstraction, (4) economy, (5) adaptivines to goal, (6) social value and (7) the emergence of originals, and to maintain such activities under conditions that demand a concentration of emergy and resistance to emotional forces (Stoddard, 1943).
DEFINISI KECERDASAN MENURUT GUILFORD
4. . . . intelligence - as a systematic collection of a abilities or functions for processing different kinds of information in different ways using contents and products - includs creativity and fits within the realm of Structure of Intellect. The mental operation involved in informational processing conponent of the model is divergent production (Guilford, 1975)
TEORI KELOMPOK FAKTORKECERDASAN
CHARLES SPEARMAN - 1926
Mengajukan Teori Dua Faktor, faktor Umum dan Faktor-faktor Spesial (Khusus).
Faktor Umum disebut faktor G (general) dan faktor s (spesial), khusus.
Faktor G menjadi dasar faktor-faktor s
KEMAMPUAN MENTAL PRIMER
1. N – KEMAMPUAN NUMERIKA
2. W – KELANCARAN BAHASA
3. M – KEMAMPUAN MEMORI
4. S – KEMAMPUAN SPASIAL
5. V – KEMAPUAN KOMPREHENSI VERBAL
6. P – KEMAMPUAN PERSEPSI
7. MCH – KEMAMPUAN MEKANIKA
8. R – KEMAMPUAN PENALARAN DEDUKSI DAN INDUKSI
TEORI HIERARKHI INTELEK VERNON
• Di puncak hierarkhi, Vernon meletakkan faktor General (G) dari teori Spearman. Dari sini faktor G dibagi menjadi dua kelompok faktor mayor, yakni:
• 1). Kelompok faktor mayor verbal edukasional (VE), dan
• 2). Kelompok faktor mayor praktikal mekanikal (PM).
• Dari kelompok mayor verbal edukasional dibagi lagi menjadi kelompok faktor minor, yakni:
• a). Kelompok faktor minor verbal.
• b). Kelompok faktor minor numerikal, dan
• c). Kelompok faktor minor edukasional.
• Sedangkan kelompok mayor praktikal mekanikal dibagi lagi menjadi kelompok-kelompok faktor minor, yakni:
• (a). kelompok faktor minor praktikal.
• (b). kelompok faktor minor mekanikal,
• (c). kelompok faktor minor spasial (gerak), dan
• (d). kelompok faktor minor fisikal.
• Seterusnya tiap faktor minor dibagi-bagi menjadi faktor-faktor khusus.
Keterangan:
1. Fluency of association : kelancaran asosiasi
2. Grammar : tatabahasa
3. Vocabulary : perbendaharaan kata
4. Computation : perhitungan, penghitungan
5. Measurement concepts and formulas : pengukkuran
konsep dan rumus
6. Geometric knowledge : pengetahuan geometri
7. Vizualizing rotation in a plane : visualisasi putaran dalam bidang datar
8. Vizualizing in three dimension : visualisasi dalam tiga dimensi
9. Mechanical information : informasi mekanika
10. Electrical information : informasi elektris, kelistrikan
11. Evaluating stresses : penilaian stres, tekanan jiwa
STRUKTUR INTELEK DARI GUILFORD
3 DIMENSI INTELEK:
a. Dimensi isi (content), dan isinya intelek itu dapat berupa figural (gambar), symbolic (simbol), semantic (pernyaan dalam kalimat), dan behavioral (perilaku). Isi tersebut diberi simbol: F, S, M, B.
b. Dimensi operasi (kerjanya), yakni bahwa operasi intelek itu akan meliputi cognition (C): kognisi ; memory (M) : mengingat ; divergent production (D) : produksi devergen; inductive production (I): produksi induksi ; dan evaluation (E): evaluasi atau penilaian.
c. Dimensi hasil (products), yakni meliputi Units (U) ; Classes (C), Relation (R), Systems (S), Transformations (T) dan Implications (I), hasil hasil tersebut adalah unit, kelas, hubungan, sistem, tranformasi (pemindahan), dan implikasi.
KECERDASAN EMOSI
DR. BAR- ON
Emotional Intelligence reflects one's ability to deal with daily environment challenges and helps predict one's success in life, including professional and personal pursuits” (dalam Jill Dann, 2001, p. 10).
DANIEL GOLEMAN
Emotional Intelligence is the capacity for recognizing our own feelings and those of others, for motivating ourselves and for managing emotions will in ourselves and in our relationships (Jill Dann, 2001, p. 18).
Bahwa "emosi merujuk pada perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk berbuat" (Goleman, 1997, p. 411).
KECERDASAN SPIRITUAL
Khalil A Khavari:
• Spiritual Intelligence is the faculty of our non-material dimension--the human soul. It is the diamond-in-the-rough that every one of us has. It must be recognized for what it is, polished to high luster with great determination and used to capture lasting personal happiness. Like the other two forms of intelligence, spiritual is also subject to enchancement as well as deterioration, except that its capacity to increase seems limitless (Khalil A Khavari, 2000, p. 23).
har dan Marshall:
• SQ has no necessary connection to religion. Fore some people, SQ may find a mode of expression through formal religion, but being religious doesn't guarantee high SQ. Many humanist and atheists have very high SQ; many actively and voiciferiously religious people have very low SQ (Zohar dan Marshall, 2000).
KECERDASAN MULTIDIMENSIONAL
1. Kecerdasan linguistik, adalah kemampuan memakai bahasa dalam rasa sastra.
2. Kecerdasan logis-matematis, adalah kelogisan matematikal dan kemampuan akademik (keilmuan).
3. Kecerdasan spasial, adalah kemampuan membentuk suatu model mental dari dunia spasial termasuk kemampuan manover dan mengoperasikannya sesuai dengan model tadi.
4. Kecerdasan musikal (seni musik), adalah kemampuan memakai bahasa musik.
5. Kecerdasan kinestesi-jasmaniah, adalah kemampuan memecahkan problem atau penampilannya dalam memakai bagian-bagian tubuh atau seluruh tubuhnya. Atau dengan kata lain keluwesan dan kecekatan berbuat.
6. Kecerdasan interpersonal, ialah kamampuan untuk memahami orang-orang lain dan motivasi mereka, dan tahu bekerja sendiri atau bekerja sama dengan orang lain.
7. Kecerdasan intrapersonal, ialah kemampuan mawas diri dan kapasitas membentuk model diri (self) yang akurat dan terpercaya yang dapat dipakai untuk melaksanakan hidup secara efektif.
Dari tujuh macam kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner, penulis menganggap belum lengkap, belum sempurna, oleh karena itu penulis tambah tiga macam kecerdasan lagi, biar menjadi sepuluh macam kecerdasan--dasa kecerdasan--yakni:
8. Kecerdasan adaptasi dan mengelola lingkungan hidup, adalah kemapuan memanfaatkan dan memelihara lingkungan hidup sehingga menjadi aman, nyaman, sejahtera, dan lestari.
9. Kecerdasan emosional, ialah kemampuan mengelola segala perasan dan emosi manusia, sehingga individu atau kelompok dapat hidup dan bekerja secara efektif tanpa mengalami frustrasi yang neoritik,
10. Kecerdasan moral dan spriritual, adalah kemampuan beriman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan menjalankan hidup beragama sesuai dengan agama yang dianutnya, serta mampu bertenggang rasa dan bekerja sama di antara sesama umat beragama lainnya. Jadi, kecerdasan moral dan spiritual adalah kemampuan mem bangun budipekerti luhur.
• Menurut Cooper dan Sawaf banyak kesuksesan para eksekutif disebabkan oleh empat hal, yakni:
1. Emotional Literacy - Kecerdasan Emosional.
2. Emotional Fitness - Emosi yang Bagus (fit).
3. Emotional Depth - Kedalaman (Kematangan) Emosional.
4. Emotional Alchemy - emosional Alkemis.
• Kecerdasan emosinal diaplikasikan dalam leadership, belajar organisasi dan hidup. Kemampuan untuk mengembangkan intelektual dan emosional, dapat menghasilkan pengembangan kebisnisan dan karier dalam substansi:
a. leadership atau kepemimpinan
b. pengambilan keputusan
c. komunikasi terbuka dan jujur
d. kepercayaan hubungan dan timwork
e. loyalitas costumer
f. kreativitas dan inovasi.
• EQ Map memakai lima dimensi, ialah:
a. mengetahui emosi seseorang (diri sendiri)
b. mengendalikan emosi seseorang (diri sendiri)
c. empati
d. mengendalikan emosi-emosi dalam orang lain
e. motivasi-diri
• Pedoman penyekoran: Seluruh skor dari skala EQ Map dibagi menjadi empat level, yakni:
1. Optimal - level tinggi.
2. Profisensi - level cakap (cukup).
3. Vulnerabel - level sedang.
4. Caution - level peringatan, level rendah.
• EQ Map terdiri atas 20 skala yang dibagi atas lima zona perfoman dengan 2, 3, dan 4 berisi definisi EQ Map dari skope kecerdasan emosional:
1. Current Environment, berisi skala yang lebih luas mengenai tekanan hidup dan kepuasan hidup.
2. Awareness - kesadaran, berisi skala-skala EI mengenai kesadaran-diri, ekspresi emosional, dan kesadaran empati.
3. Competencies - kompetensi-kompetensi, berisi skala-skala EI mengenai intensionalitas, kreativitas, kegembiraan, hubungan-hubungan interpersonal, ketidakpuasan konstruktif.
4. Values and attitude - Nilai-nilai dan sikap, berisi skala-skala EI mengenai pandangan ke depan (cita-cita), kompasi, intuisi, radius trust, kekuatan personal, integrasi-diri.
5. Results - hasil-hasil, berisi skala-skala kesehatan umum, kualitas hidup, indeks hubungan-hubungan, dan performan optimal.
1. Emotional Literacy - Kecerdasan Emosional.
2. Emotional Fitness - Emosi yang Bagus (fit).
3. Emotional Depth - Kedalaman (Kematangan) Emosional.
4. Emotional Alchemy - emosional Alkemis.
• Kecerdasan emosinal diaplikasikan dalam leadership, belajar organisasi dan hidup. Kemampuan untuk mengembangkan intelektual dan emosional, dapat menghasilkan pengembangan kebisnisan dan karier dalam substansi:
a. leadership atau kepemimpinan
b. pengambilan keputusan
c. komunikasi terbuka dan jujur
d. kepercayaan hubungan dan timwork
e. loyalitas costumer
f. kreativitas dan inovasi.
• EQ Map memakai lima dimensi, ialah:
a. mengetahui emosi seseorang (diri sendiri)
b. mengendalikan emosi seseorang (diri sendiri)
c. empati
d. mengendalikan emosi-emosi dalam orang lain
e. motivasi-diri
• Pedoman penyekoran: Seluruh skor dari skala EQ Map dibagi menjadi empat level, yakni:
1. Optimal - level tinggi.
2. Profisensi - level cakap (cukup).
3. Vulnerabel - level sedang.
4. Caution - level peringatan, level rendah.
• EQ Map terdiri atas 20 skala yang dibagi atas lima zona perfoman dengan 2, 3, dan 4 berisi definisi EQ Map dari skope kecerdasan emosional:
1. Current Environment, berisi skala yang lebih luas mengenai tekanan hidup dan kepuasan hidup.
2. Awareness - kesadaran, berisi skala-skala EI mengenai kesadaran-diri, ekspresi emosional, dan kesadaran empati.
3. Competencies - kompetensi-kompetensi, berisi skala-skala EI mengenai intensionalitas, kreativitas, kegembiraan, hubungan-hubungan interpersonal, ketidakpuasan konstruktif.
4. Values and attitude - Nilai-nilai dan sikap, berisi skala-skala EI mengenai pandangan ke depan (cita-cita), kompasi, intuisi, radius trust, kekuatan personal, integrasi-diri.
5. Results - hasil-hasil, berisi skala-skala kesehatan umum, kualitas hidup, indeks hubungan-hubungan, dan performan optimal.
• Cooper membuat model EI dengan tiga kekuatan pendorong pengembangan yang menguntungkan berupa tiga lingkaran yang saling berpotongan sebagai berikut:
1. Peningkatan enegri dan keefektifan di bawah tekanan: Skala ini terdiri atas lebih luas mengukur tekanan hidup dan kepuasankepuasan hidup, kesehatan umum dan tindakan (performan) optimal, dan kompetensi emosional mengukur kesadaran-diri emosional, ekspresi emosional dan kegembiraan.
2. Membangun kepercayaan hubungan-hubungan, terdiri atas skala-skala empati, hubungan-hubungan interpersonal, kompasi, radius kepercayaan, integrasi-diri, dan indeks hubungan.
3. Menciptakan masa depan (cita-cita) melalui inovasi dan mengembangkan potensi yang unik: terdiri atas skala-skala intensionalitas, kreativitas, ketidak-puasan konstruktif, pandangan ke depan, intuisi, kekuatn personal dan kualitas hidup.
- Jika konsep Model EI dari Robert Cooper: Three Driving Forces of Competetitive Advantage, sebagaimana diukur dengan the EQ MapTM tersebut digambar atau dipetakan adalah sebagai berikut:
- Nilai dalam Tindakan (Values in Action)
- Vitalitas dalam Tindakan (Vitality in Action)
- Visi dalam Tindakan (Vision in Action)
1 comment(s) to... “Tes Bakat”


1 komentar:
eeeebeeeeeeeeeeeee.........
t' ada eeeeeeeeeeeeeeeee..........
bbbbbbbbbbbbbbbb........
para eeeeeeeeeeeeee.........
Posting Komentar